
MBN.com – Pemerintah Provinsi Maluku memastikan ketersediaan stok pangan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) berada pada posisi aman menjelang Tahun Baru Imlek, Puasa Ramadan dan Idul Fitri dan Nyepi Tahun 2026.
Meski pasokan di pasar tercatat surplus, tantangan baru muncul dalam bentuk penurunan daya beli masyarakat yang mulai menggejala di tingkat akar rumput.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, sejumlah komoditas utama menunjukkan angka ketersediaan yang melampaui kebutuhan konsumsi bulanan.
Beras, misalnya, tersedia sebanyak 67.000 ton dengan proyeksi konsumsi hanya 23.500 ton, menyisakan cadangan hingga April mendatang. Surplus serupa juga terjadi pada minyak goreng, daging ayam, serta bumbu dapur seperti bawang merah dan cabai.
”Hingga Februari, sejumlah bahan pokok tersedia bahkan jumlahnya melebihi kebutuhan konsumen. Kami terus memantau ketersediaan ini agar stabilitas pasokan tetap terjaga,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Faradilla Attamimi, di Ambon, Jumat (13/2/2026).
Namun, melimpahnya stok di gudang-gudang distributor tidak serta-merta diikuti dengan gairah belanja. Fenomena down trading—di mana konsumen beralih ke produk yang lebih murah—mulai terlihat sebagai dampak dari inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Sebagian warga di kelompok menengah-bawah dilaporkan mulai menahan konsumsi akibat kenaikan biaya hidup yang memangkas pendapatan riil mereka.
Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Provinsi Maluku mengandalkan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai instrumen intervensi. Selain menggelar pasar murah di titik strategis, unit GPM Mobile juga dikerahkan untuk menjangkau pemukiman padat penduduk guna memangkas rantai distribusi dan harga.
Di sektor energi, kondisi serupa dilaporkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maluku. Stok Pertalite dipastikan aman hingga 51 hari ke depan, sementara minyak tanah mencukupi untuk kebutuhan 81 hari.
Kepala Dinas ESDM Maluku, Abdul Haris menegaskan, bahwa meskipun sempat terjadi kekosongan singkat di beberapa wilayah akibat keterlambatan distribusi antar-agen, secara akumulatif stok BBM di Maluku sangat mencukupi.
Pemerintah melalui Satgas Pangan dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) kini memperketat pengawasan terhadap rantai pasok. Selain mencegah praktik penimbunan oleh spekulan, fokus utama adalah memastikan harga di tingkat pedagang tetap terjangkau bagi masyarakat yang daya belinya tengah tertekan.
Warga pun diimbau untuk tidak melakukan pembelian berlebih (panic buying) yang justru dapat memicu gejolak harga secara artifisial. (***)
Share this ...





