
MBN.com – Pemerintah Kota Ambon di bawah nakhoda Wali Kota Bodewin M. Wattimena dan Wakil Wali Kota Ely Toisutta kini genap menapakkan kaki di tahun pertama masa kepemimpinannya. Dalam refleksi satu tahun yang dipaparkan di Ruang Rapat Vlisinggen, Jumat (20/2/2026), tergambar sebuah potret pemerintahan yang sedang berupaya keras menyelaraskan dinamika persoalan urban dengan dokumen perencanaan daerah 2025–2029. Visi besar “Ambon Manise yang Berdaya dan Berkelanjutan” bukan sekadar hiasan retorika, melainkan komitmen yang dijabarkan ke dalam 17 program prioritas sebagai kompas pembangunan.
Wattimenamenegaskan bahwa perjalanan setahun ini bukanlah lintasan yang datar, melainkan sirkuit penuh tantangan yang menuntut ketahanan kebijakan. Ia meyakini bahwa arah pembangunan yang telah diletakkan sejak awal tetap berada pada jalur yang benar sesuai komitmen politik yang pernah diikrarkan. Baginya, esensi dari kepemimpinan ini bukan terletak pada seremoni-seremoni pemerintahan, melainkan pada sejauh mana kebijakan tersebut mampu menyentuh nadi kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput melalui intervensi yang terukur.
Langkah konkret di sektor pelayanan dasar menjadi salah satu pilar yang paling menonjol dalam laporan progres setahun terakhir. Pemerintah Kota Ambon menyadari betul bahwa krisis air bersih adalah persoalan klasik yang harus segera dijawab. Melalui rehabilitasi jaringan pipa yang masif dan perluasan jangkauan ke wilayah-wilayah rawan, ketersediaan air bersih kini mulai dirasakan lebih merata. Upaya ini menjadi sinyal bahwa infrastruktur dasar merupakan fondasi utama sebelum membangun narasi besar tentang kota modern.
Tak hanya urusan air, wajah kota juga terus dipoles melalui manajemen persampahan yang lebih terintegrasi. Penambahan armada kebersihan dan pembangunan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang tersebar di berbagai titik menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menata estetika dan sanitasi kota. Namun, kebijakan ini tidak berdiri sendiri; edukasi kepada masyarakat terus diperkuat untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar tugas petugas kebersihan di pagi hari.
Penataan ruang publik pun merambah pada perbaikan infrastruktur jalan dan optimalisasi lampu penerangan yang selama ini menjadi keluhan warga. Transformasi ini juga menyentuh aspek mobilitas melalui penataan lalu lintas yang lebih tertib serta rehabilitasi rumah tidak layak huni bagi warga prasejahtera. Pembenahan pasar dan fasilitas publik lainnya turut menjadi fokus, mengingat pasar merupakan jantung ekonomi rakyat yang harus dibuat nyaman dan representatif bagi pedagang maupun pembeli.
Di sisi ekonomi makro, duet Bodewin-Ely berupaya membongkar sumbatan investasi dengan menyederhanakan proses perizinan yang selama ini dianggap berbelit. Kehadiran Mall Pelayanan Publik dan akselerasi inovasi Ambon Smart City melalui layanan Call Center 112 menjadi bukti nyata modernisasi birokrasi. Hasilnya, realisasi investasi menunjukkan tren positif yang dibarengi dengan penguatan sektor UMKM dan koperasi sebagai jaring pengaman ekonomi lokal di tengah ketidakpastian global.
Sebagai kota yang menyandang gelar Kota Musik Dunia dari UNESCO, Ambon terus menjaga marwah kreatifnya dengan mendorong berbagai event ekonomi kreatif yang melibatkan ratusan pelaku usaha kecil. Pemerintah tidak hanya memberikan panggung, tetapi juga memberikan perlindungan hukum bagi para pekerja kreatif agar karya mereka memiliki nilai ekonomi yang terlindungi. Inisiatif ini mempertegas posisi Ambon bahwa seni dan budaya bisa menjadi mesin penggerak ekonomi yang inklusif jika dikelola dengan manajemen yang tepat.
Pada sektor kesehatan dan pendidikan, raihan prestasi juga terlihat cukup signifikan dengan cakupan jaminan kesehatan yang kini hampir menyentuh angka 100 persen. Keberhasilan menekan prevalensi stunting dan keberlanjutan program makanan bergizi gratis bagi siswa menjadi indikator bahwa investasi pada sumber daya manusia adalah prioritas jangka panjang. Selain itu, penguatan kerukunan antarumat beragama dengan menggandeng tokoh agama serta organisasi kepemudaan menjadi modal sosial yang penting untuk menjaga stabilitas pembangunan.
Meski demikian, setahun kepemimpinan ini tetap menyisakan catatan kritis yang diakui secara terbuka oleh Wali Kota. Persoalan pengangguran dan angka kemiskinan masih menjadi tantangan struktural yang membutuhkan kerja ekstra keras dan kolaborasi lintas sektor. Komitmen untuk terus mengevaluasi kinerja dan membuka ruang bagi partisipasi publik menjadi janji yang harus ditagih di tahun-tahun mendatang demi mewujudkan Ambon yang benar-benar manise bagi seluruh warganya tanpa terkecuali. (***)
Share this ...









