Ely Toisutta Sebut Lomba Jukulele Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Dorong Kreativitas dan Ekonomi
Ely Toisutta Sebut Lomba Jukulele Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Dorong Kreativitas dan Ekonomi

MBN.com — Lomba Festival Jukulele Tingkat Kecamatan Sirimau Tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang untuk menunjukkan kemampuan bermusik. Pemerintah Kota Ambon berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kreativitas lokal, kebersamaan masyarakat, sekaligus memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi.

Hal itu disampaikan Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta saat membuka Lomba Jukulele Tingkat Kecamatan Sirimau di Taman Budaya, Karang Panjang, Senin (10/8/2026).

Menurut Toisutta, setidaknya terdapat tiga manfaat penting yang diharapkan dari pelaksanaan festival tersebut. Pertama, kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengembangkan potensi dan kreativitas melalui musik.

Manfaat kedua, kata dia, berkaitan dengan penguatan kebersamaan. Festival jukulele diharapkan dapat menjadi ruang silaturahmi sekaligus mempererat persatuan dan persaudaraan masyarakat, mulai dari tingkat desa, negeri, kelurahan hingga Kecamatan Sirimau. Selain itu, kegiatan seni dan budaya juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Dengan demikian, kegiatan seni dan budaya tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mampu menggerakkan aktivitas ekonomi di tengah-tengah masyarakat,” tandas Toisutta.

Toisutta mengatakan, Kota Ambon telah ditetapkan UNESCO sejak 2019 sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) dengan predikat City of Music. Menurutnya, predikat tersebut tidak semata-mata merupakan gelar atau penghargaan bagi Kota Ambon. Status sebagai City of Music sekaligus menjadi identitas dan tanggung jawab bersama untuk menjaga, mengembangkan, serta mewariskan kekayaan musik yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat Ambon, lanjut Toisutta, musik tidak sebatas hiburan. Musik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, ekspresi budaya, sarana membangun kebersamaan, sekaligus media yang dapat mempertemukan masyarakat di tengah berbagai perbedaan.

“Salah satu kekayaan musik yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat kita adalah jukulele. Alat musik ini bukan hanya menghasilkan nada dan melodi, tetapi juga membawa nilai-nilai kebersamaan, kreativitas, serta semangat untuk terus menjaga warisan budaya lokal,” ujarnya.

Ia pun memberikan apresiasi kepada panitia yang telah menyediakan ruang bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, untuk menyalurkan bakat serta kreativitas melalui musik.

Toisutta menilai Kecamatan Sirimau memiliki posisi penting dalam kehidupan Kota Ambon. Wilayah tersebut menjadi pusat berbagai aktivitas pemerintahan, perdagangan, jasa, pendidikan, sosial dan budaya dengan karakter masyarakat yang beragam serta dinamis.

Karena itu, pelaksanaan Festival Jukulele Tingkat Kecamatan Sirimau Tahun 2026 dinilai memiliki nilai positif yang lebih luas daripada sekadar kompetisi.

“Dalam konteks inilah, pelaksanaan Lomba Festival Jukulele Tingkat Kecamatan Sirimau Tahun 2026 menjadi sesuatu yang sangat positif,” ujar Toisutta.

Ia menegaskan, festival tersebut hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai perlombaan untuk menentukan pemenang. Kegiatan itu juga harus menjadi ruang silaturahmi, kreativitas dan penguatan kebersamaan masyarakat.

“Melalui kegiatan seperti ini kita ingin memastikan, seni dan budaya tidak hanya dipertunjukkan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun karakter, memperkuat persaudaraan, serta memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkembang dan berprestasi,” tandas Toisutta.

Kepada seluruh peserta, Toisutta berpesan agar menampilkan kemampuan terbaik dengan tetap menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas. Ia juga meminta para peserta menikmati setiap proses yang dijalani selama mengikuti perlombaan.

“Kemenangan bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan juara, tetapi juga tentang keberanian untuk tampil, kesempatan untuk belajar, dan pengalaman yang kita dapatkan bersama,” tandasnya.

Sementara itu, Camat Sirimau M. Aulia Waliulu yang juga Ketua Panitia Lomba mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas musik anak-anak dan generasi muda Kota Ambon.

Menurut Waliulu, pembelajaran musik melalui jukulele tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memainkan alat musik. Kegiatan tersebut juga dapat membantu membangun karakter positif serta mendukung perkembangan kognitif dan motorik anak.

“Lomba ini dapat mengajarkan anak-anak untuk memupuk kecintaan terhadap musik lokal dan tetap mewarisi budaya dan tradisi musik Ambon,” ujarnya.

Ia menambahkan, manfaat yang diperoleh anak-anak tidak berhenti pada kemahiran memainkan alat musik. Proses bermusik juga dapat mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan motorik, sekaligus melatih kemampuan bekerja sama.

Waliulu menjelaskan, Festival Jukulele tersebut dilaksanakan oleh TP PKK Kota Ambon bersama Ambon Music Office (AMO). Kegiatan ini menjadi wadah untuk meningkatkan kreativitas anak sekaligus mendorong peningkatan kapasitas dan kualitas mereka dalam bermusik.

Ia berharap kegiatan tersebut turut memperkuat identitas Ambon sebagai Kota Musik Dunia, sekaligus memastikan kecintaan terhadap musik lokal tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Festival kemudian resmi dibuka setelah sambutan Wakil Wali Kota Ambon. Pembukaan dilakukan Toisutta bersama Camat Sirimau, perwakilan Bank Indonesia (BI), Direktur AMO Ronnie Loppies, perwakilan PT PLN Unit Layanan Wilayah (UIW) Maluku-Maluku Utara (MMU), serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Pembukaan ditandai dengan petikan jukulele secara bersama-sama. Lomba Jukulele Tingkat Kecamatan Sirimau Tahun 2026 diselenggarakan Pemerintah Kota Ambon melalui Ambon Music Office (AMO) dan TP-PKK Kota Ambon. (***)

Share this ...