Walikota Ambon Resmikan EWS Banjir dan Tugu Tsunami 1950
Walikota Ambon Resmikan EWS Banjir dan Tugu Tsunami 1950

MBN.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon terus memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana. Upaya tersebut ditandai dengan peresmian alat Early Warning System (EWS) banjir serta Tugu Peringatan Tsunami Kota Ambon Tahun 1950 yang berlangsung di Balai Negeri Hative, Sabtu (5/9).

Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini turut mendukung Pemkot Ambon dalam membangun sistem penanggulangan sekaligus pengurangan risiko bencana di Kota Ambon. Menurutnya, kondisi geografis Ambon membuat wilayah ini memiliki tingkat kerawanan terhadap berbagai jenis bencana.

“Ambon termasuk daerah yang sangat rawan bencana. Tidak saja gempa bumi dan tsunami, tetapi juga banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, pohon tumbang dan berbagai bencana lainnya,” ujarnya.

Bodewin mengatakan, setiap tahun tercatat puluhan hingga ratusan titik bencana terjadi di wilayah Kota Ambon. Kondisi itu, kata dia, menjadi alasan bagi pemerintah untuk terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak. Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah pusat dan provinsi, perguruan tinggi, NGO, maupun berbagai lembaga lainnya yang memiliki perhatian terhadap upaya pengurangan risiko bencana.

“Bencana tidak bisa kita hindari, tetapi risikonya bisa kita minimalisir. Paling tidak, korban jiwa jangan sampai timbul karena bencana,” tegasnya.

Ia menjelaskan, langkah mitigasi tidak hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga dengan meningkatkan kesadaran masyarakat serta memperkuat kesiapsiagaan hingga di tingkat desa/negeri. Pemkot Ambon, lanjutnya, telah membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana, sekaligus menyiapkan regulasi dan peta kebencanaan yang menjadi instrumen penting dalam upaya menekan risiko bencana.

Dalam kesempatan tersebut, Bodewin juga menekankan pentingnya keberadaan Tugu Peringatan Tsunami 1950. Menurutnya, tugu tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai sebuah monumen, tetapi harus menjadi pengingat sejarah sekaligus media untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Hal itu dinilai penting terutama bagi masyarakat di kawasan Galala dan Negeri Hative Kecil, yang memiliki sejarah bencana gempa bumi dan tsunami.

“Tugu ini jangan dipandang sekadar sebagai monumen batu beton yang lama-lama akan dilupakan. Ini adalah pengingat bahwa pada tahun 1950 pernah terjadi tsunami di sini. Dengan terus mengingat sejarah, kita membangun kesadaran dan kewaspadaan agar ketika bencana yang sama terjadi kembali, masyarakat tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.

Sementara itu, pemasangan EWS banjir diharapkan mampu memberikan peringatan lebih awal kepada masyarakat apabila debit air telah mencapai kondisi yang berpotensi menimbulkan risiko bencana.

Dengan adanya sistem tersebut, masyarakat diharapkan memiliki waktu untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan dan evakuasi secara lebih cepat ketika kondisi darurat terjadi. Wali Kota juga mengingatkan masyarakat untuk ikut menjaga perangkat EWS yang telah dipasang agar dapat berfungsi secara maksimal ketika dibutuhkan.

“Alat-alat ini mahal dan dipasang untuk menjaga kita semua. Karena itu saya titip kepada Bapak Raja dan seluruh masyarakat, mari kita jaga bersama. Jangan sampai dirusak atau diambil,” pintanya.

Ke depan, Pemkot Ambon berharap kerja sama dengan berbagai pihak dapat terus diperkuat. Sejumlah mitra yang selama ini terlibat antara lain Kyoto University, Tohoku University, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pattimura (Unpatti) serta berbagai pihak lainnya. Kolaborasi tersebut diharapkan semakin memperkuat kapasitas dan ketangguhan Kota Ambon dalam menghadapi berbagai potensi bencana. (***)

Share this ...