
MBN.com – Langit Pattimura Park Kota Ambon, pada Sabtu malam (14/02/2026) dipenuhi tabuhan musik dan warna merah lampion. Festival Imlek 2577 Kongzili yang digelar Pemerintah Kota Ambon, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bukan sekadar perayaan pergantian tahun dalam kalender lunar, melainkan sebuah manifestasi nyata dari upaya merawat keberagaman di kota Ambon.
Kemeriahan malam itu, dihadiri oleh pucuk pimpinan kota Ambon, mulai dari Wali Kota Bodewin M. Wattimena, Wakil Wali Kota Ely Toisuta, hingga Ketua DPRD Kota Ambon Mourits Tamaela. Kehadiran para tokoh lintas instansi, dan masyarakat dari berbagai latar belakang etnis ini menegaskan, bahwa identitas Ambon kini semakin inklusif bagi semua golongan.
Dalam sambutannya, Wali Kota Bodewin Wattimena mengajak seluruh warga, untuk mensyukuri ruang kebebasan berekspresi yang tetap terjaga. Baginya, konsistensi perayaan Imlek dalam kalender pariwisata kota, merupakan perwujudan dari semangat persaudaraan yang selama ini didengungkan, sebagai jati diri orang Ambon.
“Ini adalah bukti, bahwa slogan kita, ‘beta par Ambon, Ambon par samua bukan sekadar narasi kosong. Ini adalah tindakan nyata pemerintah kota, untuk merangkul dan memberikan ruang bagi seluruh warga tanpa terkecuali,” ujar Walikota.
Pemerintah Kota Ambon, memang telah memetakan strategi pariwisata berbasis budaya dan religi. Setidaknya, ada empat festival besar yang kini menjadi agenda tetap tahunan. yakni Festival Jalan Salib, Festival Ramadan, Festival Imlek, dan Festival Santa Claus. Strategi ini diambil untuk memperkaya daya tarik kota di luar potensi wisata alam.
Walikota menekankan, Ambon tidak bisa hanya bergantung pada keindahan pantai atau laut semata. Sektor pariwisata memerlukan nilai tambah, berupa atraksi budaya yang memiliki karakter kuat dan khas, sehingga mampu meninggalkan kesan mendalam, bagi para pelancong yang berkunjung.
”Jika kita mampu menghadirkan atraksi budaya yang unik, orang akan selalu mengingat Ambon karena perayaannya. Inilah yang menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan kita dengan daerah lain,” tutur Bodewin menjelaskan visinya terkait ekonomi kreatif berbasis budaya.
Lebih lanjut, ia memandang, kemajemukan sebagai aset bukan beban. Perayaan Imlek tahun ini menjadi simbol keberpihakan negara, dalam menjamin hak setiap warga negara untuk merayakan hari besar keagamaan mereka, dengan penuh sukacita di ruang publik.
Walikota juga menyisipkan pesan humanis, agar perayaan seremonial semacam ini tidak kehilangan ruh sosialnya. Ia berharap di masa mendatang, kegiatan festival semakin diperkaya dengan aksi nyata, yang langsung menyentuh masyarakat kurang mampu di sudut-sudut kota.
”Jika kita mampu mengelola tantangan dengan kematangan emosional dan pemahaman yang baik, tantangan itu bukan lagi batu besar penghalang, melainkan hanya kerikil kecil yang bisa kita singkirkan. Mari jadikan Imlek sebagai momentum untuk terus beradaptasi,” tambahnya.
Senada dengan semangat tersebut, Ketua Panitia Festival Sandra Berhitu dalam laporannya menyebutkan, Imlek adalah ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai kebajikan. Baginya, keharmonisan dan rasa syukur adalah fondasi utama, dalam membangun relasi sosial yang sehat di tengah masyarakat yang heterogen.
”Mari kita jadikan Hari Raya Imlek ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan antar sesama, dan menebarkan kebaikan di lingkungan sekitar kita,” ungkap berhitu.
Secara teknis, Festival Imlek tahun ini, juga dirancang untuk mendukung 17 program prioritas kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota periode 2025–2030. Fokus utamanya terletak pada poin ketujuh, yakni pembangunan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Terlihat Sejak pagi, para pelaku ekonomi kreatif dari 17 subsektor telah memadati area pameran, untuk memamerkan produk-produk lokal mereka. Penyelenggaraan festival ini terbukti membawa dampak ekonomi yang signifikan, di mana data tahun kemarin, menunjukkan peningkatan kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kota Ambon.
Kesuksesan acara ini tak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk dukungan dari Yayasan Simpati Kota Ambon, yang menjadi wadah warga keturunan Tionghoa. Dengan sokongan APBD dan mitra kerja, Festival Imlek menjadi simbol harmoni, sekaligus mesin penggerak ekonomi yang memperkuat sendi-sendi persaudaraan di bumi Maluku, khususnya di Kota Ambon. (***)
Share this ...





