
MBN.com – Pemerintah Kota Ambon menggelar kegiatan Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Pra Musrembang) Tematik Stunting Tahun 2026 yang berlangsung Rabu (08/04/2026), di Marina Hotel. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis percepatan penurunan stunting di Kota Ambon.
Dalam sambutannya, Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani persoalan stunting, sekaligus mengajak seluruh pihak untuk tetap optimis meskipun di tengah keterbatasan anggaran.
“Sebagai pemerintah, tidak ada kata pesimis. Kita harus mampu beradaptasi dan mencari cara agar program penurunan stunting tetap berjalan dengan baik,” ujar Wattimena di hadapan peserta jajaran Pemerintah Kota Ambon, kepala Puskesmas se-Kota Ambon, media, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Ia juga menekankan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia yang fundamental. Setiap individu, kata dia, berhak memperoleh layanan kesehatan yang adil dan berkualitas, baik dalam aspek promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif.
Lebih lanjut, Wattimena menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga isu pembangunan yang berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM), produktivitas masa depan, hingga daya saing daerah. Dampak stunting meliputi rendahnya tingkat kecerdasan, meningkatnya kerentanan terhadap penyakit, serta berisiko menurunkan produktivitas dan memperluas kesenjangan sosial.
Berdasarkan data, prevalensi stunting di Kota Ambon menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2021 tercatat sebesar 21,8%, turun menjadi 21,1% pada 2022, 20,7% pada 2023, dan 19,7% pada 2024. Sementara itu, pada tahun 2025 tercatat sebanyak 279 kasus stunting dari 17.450 balita yang diukur, dengan prevalensi 1,60%. Memasuki Februari 2026, jumlah tersebut kembali menurun menjadi 271 kasus atau 1,58%.
“Ini adalah bukti nyata kerja bersama seluruh pihak. Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kolaborasi dan konvergensi yang telah dilakukan,” ungkapnya.
Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Ambon 2025–2029, pemerintah menargetkan penurunan stunting secara bertahap, yakni menjadi 14,7% pada 2026, 11,7% pada 2027, 8,7% pada 2028, hingga 5,7% pada 2029, dengan target akhir di bawah 5% pada 2030.
Forum Pra Musrembang ini juga menjadi wadah evaluasi dan konsolidasi lintas sektor, melibatkan berbagai pihak seperti Bappeda Litbang, Dinas Kesehatan, TP PKK, Forkopimda, camat, hingga perwakilan lembaga swadaya masyarakat. Dalam forum tersebut, Dinas Kesehatan akan menetapkan lokus stunting untuk intervensi tahun 2027 yang akan dituangkan dalam Surat Keputusan Wali Kota.
Di akhir sambutannya, Wattimena kembali menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi penghalang. Ia mengajak seluruh pihak untuk tetap memiliki kepedulian dan tanggung jawab bersama dalam memastikan masa depan anak-anak Ambon tetap cerah.
“Kita mungkin terbatas dalam anggaran, tetapi kita tidak boleh kehilangan hati nurani dan kepedulian. Anak-anak kita adalah masa depan daerah ini,” tutupnya. (***)
Share this ...














