Persidangan Ke-46 Jemaat GPM Haria, Momentum Refleksi Iman dan Perubahan Karakter Umat
Persidangan Ke-46 Jemaat GPM Haria, Momentum Refleksi Iman dan Perubahan Karakter Umat

MBN.com – Bunyi sirine memecah keheningan pagi yang tenang di dalam Gedung Gereja Pembaruan, di Dusun Saka Mese Nusa Negeri Haria, Minggu (22/2/2026). Suara itu bukan sekadar penanda teknis, melainkan simbol dimulainya Persidangan Ke-46 Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Haria. Suasana syahdu dan khidmatnya nyanyian jemaat, pertanda sebuah momentum transisi spiritual dan organisasional sedang diletakkan.

Persidangan Ke-46 ini menjadi istimewa, karena untuk pertama kalinya digelar di Gedung Gereja Pembaruan di wilayah pelayanan Sektor Moria. Sebanyak 212 peserta yang mewakili 14 sektor pelayanan berkumpul, membawa harapan Jemaat GPM Haria negeri menuju meja persidangan, untuk merumuskan masa depan pelayanan bagi 6.618 jiwa penduduk Haria.

Sekretaris Klasis GPM Pulau-pulau Lease, Pendeta F.J. Hattu, yang memimpin ibadah pembukaan, melandasi persidangan ini dengan perenungan mendalam dari Mazmur 22:20-25. Dalam khotbahnya, ia menyentuh realitas penderitaan manusia yang kerap kali menguji iman.

​”Penting bagi kita untuk terus berharap kepada Tuhan di tengah-tengah penderitaan dan tekanan hidup. Jangan pernah berhenti mencari kehendak Allah di dalam Yesus Kristus melalui doa-doa yang tekun,” ujar Pendeta Hattu di hadapan Peserta Persidangan dan Jemaat serta tamu undangan.

​Pesan tersebut seolah menjadi kompas bagi para peserta sidang, agar tidak hanya terjebak dalam angka-angka anggaran, tetapi juga peka terhadap kondisi kejiwaan jemaat. Persidangan ini bagi Pendeta Hattu, dipandang sebagai ruang untuk menyelaraskan kehendak manusia dengan rencana Ilahi.

Sementara itu ​Ketua Majelis Jemaat GPM Haria, Pendeta Stenly Hetharia, S.Th, dalam pidatonya menekankan bahwa gereja adalah organisme yang hidup, bukan sekadar organisasi. Ia mengibaratkan pelayanan di Haria sebagai kerja-kerja agraris spiritual yang tidak boleh berhenti.

​”Kita bersyukur bahwa tanggung jawab menanam, menabur, dan menyiram di ‘Kebun Anggur’ Tuhan ini terus berlangsung secara konsisten di Jemaat GPM Haria,” tutur Hetharie dengan nada penuh syukur.

Data base jemaat GPM Haria mencatat kekuatan besar dengan 3.164 laki-laki dan 3.454 perempuan (total 6.618 jiwa). Menurut Hetharie, keragaman profesi mulai dari nelayan, petani, tukang, hingga aparatur sipil negara (ASN) adalah modalitas iman yang luar biasa jika dikelola dengan hati yang melayani.

Namun, di balik kemajuan fisik, Pendeta Hetharie menyoroti tantangan batiniah yang melanda generasi muda. Isu revolusi mental menjadi poin krusial yang ia tawarkan dalam persidangan ini. Ia melihat adanya urgensi pembinaan karakter bagi anak-anak negeri di tengah gempuran zaman.

“Masalah revolusi mental menjadi perhatian kita bersama. Banyak anak-anak negeri yang perlu dibina kembali pemahaman mental dan karakternya. Gereja tidak dapat bekerja sendiri; kita butuh sinergi dari seluruh pelayan dan warga jemaat untuk mengentaskan masalah ini,” tegasnya.

Di sisi lain, Pendeta Hetharia mengingatkan, Anugerah yang dirasakan oleh Jemaat GPM Haria atas dukungan penuh dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku,  yakni kemajuan fisik pembangunan jalan raya hotmiks, haruslah dibarengi dengan semangat persaudaraan. Ia menginginkan Haria menjadi jemaat yang dinamis dan inklusif.

“Kita harus menjadi gereja yang dinamis dalam membangun semangat hidup orang basudara. Jalan yang bagus ini harus mempermudah warga memasarkan hasil perkebunan, sekaligus mempererat silaturahmi kita,” tambah Hetharie.

Daniel Pelamonia sebagai Ketua Panitia Persidangan dalam laporannya menyebutkan, bahwa pelaksanaan ini merupakan hasil kolaborasi panjang sejak persiapan dimulai pada Maret tahun 2025. Dengan anggaran sebesar Rp 114 juta, kemandirian jemaat diuji sekaligus dibuktikan.

Pelamonia juga secara khusus menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung kelancaran akses transportasi bagi warga. Ia menyebut dukungan dari berbagai tokoh dan institusi sebagai tangan-tangan Tuhan yang bekerja lewat kebijakan publik.

“Terima kasih kepada Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional wilayah Maluku, Ibu Dr. Ir. Yana Astuti, S.T.,M.T. dan Bapak Ir. Toce Leuwol, S.T.,M.T. atas dukungannya mempercepat pembangunan Jalan Inpres Daerah. Kini kami warga jemaat bisa menikmati akses transportasi yang aman dan nyaman,” ungkap Pelamonia.

Aspek teknologi pun tidak luput dari perhatian. Dalam waktu dekat, pembangunan menara telekomunikasi akan dilakukan di Haria, melengkapi fasilitas internet yang sudah ada. Hal ini dipandang sebagai alat untuk memperluas jangkauan komunikasi antar umat.

​Persidangan ke-46 ini mengusung tema “Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM” yang disadur dari 1 Petrus 10. Sebuah tema yang mengingatkan bahwa segala pencapaian fisik dan spiritual hanyalah titipan menuju usia satu abad gereja tersebut.

Selain pembangunan manusia, persidangan ini juga merayakan kemajuan infrastruktur sebagai bentuk anugerah. Kehadiran Peningkatan Jalan Inpres Daerah yang mempermudah akses ke pasar, rumah sakit, dan sekolah dipandang sebagai sarana yang mendukung mobilitas ekonomi dan pelayanan.

Setelah Ibadah dan Akta Pembukaan Persidangan, peserta sidang mulai bergelut dengan draf dan rancangan program. Di dalam Gedung Gereja Pembaruan, harapan-harapan baru dirajut agar, Jemaat GPM Haria tidak hanya menjadi mercusuar iman, tetapi juga rumah yang teduh bagi transformasi mental jemaatnya.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut, Kepala Pemerintahan Negeri Haria, Nicodemus Sahuleka,  Pengurus Besar PUSAKA HARIA, masing-masing Ketua Umum Arce Latupeirissa, Mon Sahuleka dan Danny Souhoka, dan Ketua Panitia Natal Haria Sedunia 2025 Herald Z. Manuhutu. (***)

Share this ...