Sambut Hari Pattimura ke-209 di Salatiga, Ely Toisutta Ajak Masyarakat Maluku Perkuat Persatuan dan Jaga Nilai Orang Basudara
Sambut Hari Pattimura ke-209 di Salatiga, Ely Toisutta Ajak Masyarakat Maluku Perkuat Persatuan dan Jaga Nilai Orang Basudara

MBN.com (SALATIGA) – Semangat perjuangan Kapitan Pattimura kembali menggema di Kota Salatiga, Jawa Tengah, dalam Perayaan Hari Pattimura ke-209 Tahun 2026. Momentum yang mempertemukan masyarakat Maluku dari berbagai daerah di tanah perantauan itu tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah perjuangan, tetapi juga memperkokoh komitmen menjaga persatuan, toleransi, dan nilai-nilai orang basudara sebagai warisan luhur Maluku.

Hadir mewakili Pemerintah Kota Ambon, Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta mengawali sambutannya dengan sebuah pantun yang langsung menghidupkan suasana sekaligus menggambarkan eratnya ikatan emosional masyarakat Maluku di mana pun berada.

“Dari Kota Ambon menuju Salatiga, membawa salam penuh bahagia. Walau berjauhan tanah dan udara, rasa persaudaraan Maluku tetap terjaga.” Pantun tersebut disambut tepuk tangan meriah dari ratusan warga Maluku dan tamu undangan yang memadati lokasi kegiatan.

Toisutta kemudian mengajak seluruh hadirin memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kesempatan berkumpul dalam suasana penuh kekeluargaan dan persaudaraan.

Menurutnya, Hari Pattimura bukan sekadar agenda seremonial atau peringatan sejarah tahunan, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan yang diwariskan Kapitan Pattimura kepada generasi penerus bangsa.

“Perayaan Hari Pattimura bukanlah sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah. Hari Pattimura adalah momentum untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan, keberanian, pengorbanan, dan persatuan yang diwariskan oleh Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura. Beliau membuktikan bahwa kekuatan terbesar bukan hanya terletak pada senjata, tetapi pada persatuan rakyat. Semangat itulah yang hingga hari ini tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa,” tegas Toisutta.

Ia menuturkan bahwa perjuangan Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy pada tahun 1817 lahir dari persatuan masyarakat Maluku yang melampaui perbedaan negeri, agama, maupun latar belakang sosial. Semangat kolektif tersebut, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Mengangkat tema “Tahuri Babunyi, Obor Menyala Tinggi, Parang Pattimura Manari Voor Bangun NKRI,” Toisutta mengatakan tema tersebut memiliki makna filosofis yang sangat kuat dan relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

“Tahuri Babunyi merupakan simbol bahwa seluruh anak negeri dipanggil untuk bersatu. Obor menyala tinggi melambangkan semangat perjuangan yang tidak pernah padam. Sedangkan Parang Pattimura Manari bukan dimaknai sebagai simbol peperangan, melainkan lambang keberanian, keteguhan hati, keadilan, dan kesiapan membela nilai-nilai kebenaran dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Jelas Mantan Ketua DPRD Kota Ambon ini.

Ia menambahkan bahwa semangat perjuangan Pattimura harus terus diterjemahkan dalam kehidupan berbangsa, terutama di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.

“Perjuangan hari ini bukan lagi mengangkat senjata, tetapi menjaga persatuan bangsa, melawan perpecahan, menguatkan solidaritas, dan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Toisutta juga memberikan apresiasi kepada Kota Salatiga yang selama ini dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Menurutnya, dipilihnya Salatiga sebagai lokasi penyelenggaraan Hari Pattimura bukanlah sebuah kebetulan, melainkan memiliki makna simbolis bahwa semangat Pattimura dapat hidup di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

“Hari ini kita berkumpul di Kota Salatiga, sebuah kota yang dikenal sebagai kota toleransi. Walaupun terpisah ribuan kilometer dari Ambon dan Tanah Maluku, kecintaan terhadap kampung halaman tetap hidup dalam hati masyarakat Maluku di perantauan. Namun kecintaan terhadap Maluku tidak pernah mengurangi kecintaan kepada Indonesia. Menjadi orang Maluku berarti menjadi penjaga persatuan Indonesia.” Seru Wakil Wali Kota.

Ia menilai masyarakat Maluku di perantauan telah menunjukkan bahwa identitas budaya dapat berjalan berdampingan dengan semangat nasionalisme. Nilai-nilai Pela Gandong, hidup orang basudara, gotong royong, serta budaya saling menopang, menurutnya, merupakan modal sosial yang sangat penting dalam memperkuat persatuan bangsa.

Toisutta mengajak seluruh warga Maluku, khususnya yang berada di Salatiga dan berbagai daerah lainnya, agar terus menjadi teladan dalam menjaga kerukunan. Baginya, keberadaan masyarakat Maluku di tanah rantau harus menjadi energi pemersatu, bukan sumber perpecahan.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Maluku, khususnya di Kota Salatiga, untuk terus menjadi teladan dalam menjaga kerukunan serta menjadi penggerak pembangunan di daerah tempat kita mengabdi. Kehadiran masyarakat Maluku di berbagai daerah hendaknya menjadi jembatan persaudaraan, bukan menjadi sumber konflik ataupun perpecahan.” Pintanya.

Lebih jauh, Toisutta mengatakan masyarakat Maluku memiliki tanggung jawab moral menjaga nama baik daerah asal melalui kontribusi nyata di berbagai bidang kehidupan.

“Di mana pun orang Maluku berada, kita harus membawa pesan damai, membangun kepercayaan, menjaga persaudaraan, serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Itulah makna sesungguhnya hidup sebagai orang basudara.” Pinta Toisutta.

Wakil Wali Kota Ambon itu menilai tantangan bangsa saat ini telah berubah dibanding masa perjuangan Pattimura. Jika dahulu rakyat berjuang melawan kolonialisme, kini ancaman datang dalam bentuk penyebaran hoaks, intoleransi, radikalisme, penyalahgunaan teknologi digital, degradasi moral, hingga kesenjangan sosial. semangat Pattimura harus diwujudkan melalui kerja nyata.

“Semangat Pattimura harus diterjemahkan menjadi semangat membangun, bukan memecah belah. Semangat Pattimura adalah semangat bekerja, bukan saling menjatuhkan. Semangat Pattimura adalah semangat menjaga Indonesia sebagai rumah bersama bagi seluruh anak bangsa.” Tegasnya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, ekonomi kerakyatan, pelestarian lingkungan, dan penguatan karakter generasi muda merupakan bentuk perjuangan baru yang harus terus dilakukan.

Harapannya anak-anak muda mampu menjadi generasi yang cerdas, berprestasi, adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap berpijak pada nilai budaya dan karakter Maluku.

“Kepada generasi muda Maluku, jadilah generasi yang cerdas dalam ilmu pengetahuan, unggul dalam prestasi, kuat dalam karakter, rendah hati dalam pergaulan, serta bangga terhadap identitas budaya Maluku. Mari kita wariskan kepada anak cucu bukan hanya cerita tentang Pattimura, tetapi juga teladan hidup yang mencerminkan nilai-nilai perjuangannya.” Pinta Toisutta.

Menurutnya, menjaga bahasa daerah, seni budaya, musik, tari, adat istiadat, serta falsafah hidup orang basudara merupakan bagian dari menjaga jati diri bangsa Indonesia.

Menutup sambutannya, Ely Toisutta menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Salatiga, Ikatan Keluarga Maluku, seluruh panitia, serta seluruh elemen masyarakat yang telah menyukseskan Perayaan Hari Pattimura ke-209.

Ia berharap hubungan masyarakat Maluku dengan masyarakat Jawa Tengah semakin erat dan menjadi contoh harmonisasi kehidupan kebangsaan.

“Atas nama Pemerintah Kota Ambon, saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada Pemerintah Kota Salatiga, Ikatan Keluarga Maluku, seluruh panitia, serta semua pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Marilah kita terus menjaga nyala obor perjuangan itu agar tidak pernah padam. Tahuri tetap babunyi. Obor tetap menyala. Semangat Pattimura tetap hidup. Orang basudara tetap bersatu. Indonesia tetap jaya.” Ungkap Toisutta.

Semangat Pattimura menurutnya tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi harus terus hidup dalam tindakan nyata melalui persatuan, kerja keras, toleransi, dan pengabdian kepada bangsa. Baginya, warisan terbesar Kapitan Pattimura bukan semata keberanian mengangkat senjata, melainkan keberhasilan menyatukan rakyat dalam satu tekad memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan. Nilai itulah yang harus terus dijaga oleh seluruh masyarakat Maluku, baik di tanah leluhur maupun di setiap penjuru Nusantara.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta hadir didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Ambon Richard Luhukay serta Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Ambon Ivonny Alexandra Wilhelmina Latuputty. Kehadiran jajaran Pemerintah Kota Ambon tersebut menjadi wujud komitmen pemerintah daerah dalam mempererat hubungan dengan masyarakat Maluku di perantauan sekaligus memperkuat semangat kebangsaan yang diwariskan Kapitan Pattimura.

Perayaan Hari Pattimura ke-209 di Kota Salatiga juga dihadiri sejumlah tokoh pemerintahan, akademisi, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan. Di antaranya Gubernur Maluku atau yang mewakili, Ketua DPRD Provinsi Maluku Benhur G. Watubun dan Istri, Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku di Jakarta Saiful Indra Patta, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Salatiga. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga Henny Mulyani, S.E., MAP,. AP.

Hadir pula Rektor Universitas Kristen Satya Wacana Prof. Dr. Intiyas Utami, S.E., M.Si., Ak., Pembina Himpunan Pelajar Mahasiswa Maluku (HIPMMA) Salatiga Pdt. Dr. Ferry Nahusona, Pengurus Kerukunan Keluarga Maluku Kota Salatiga, Ketua HIPMMA Salatiga Dirk H. T. Maitimu. Juga dari Unsur TNI dan Polri serta seluruh keluarga besar masyarakat Maluku yang bermukim di Kota Salatiga dan sekitarnya.

Kehadiran para pemimpin daerah, tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, hingga warga Maluku dari berbagai generasi mencerminkan bahwa semangat perjuangan Kapitan Pattimura tetap hidup dan menjadi perekat persaudaraan lintas daerah. Meskipun berada jauh dari Tanah Maluku, ikatan emosional sebagai orang basudara tetap terpelihara, sekaligus menjadi modal sosial yang terus memperkuat persatuan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat di Kota Salatiga.

Suasana penuh kekeluargaan, kebersamaan, dan toleransi yang mewarnai peringatan Hari Pattimura ke-209 tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai perjuangan Pattimura tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui semangat Pela Gandong, budaya orang basudara, serta komitmen menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, masyarakat Maluku di perantauan terus menunjukkan peran strategis sebagai duta persaudaraan, pelopor kerukunan, sekaligus mitra pemerintah dalam membangun Indonesia yang damai, maju, dan berkeadilan.

Rangkaian peringatan Hari Pattimura ke-209 di Kota Salatiga dikemas secara semarak dengan memadukan unsur budaya, sejarah, dan kebangsaan. Kegiatan diawali dengan karnaval budaya yang menampilkan parade peserta, atraksi tarian tradisional Maluku, drama kolosal perjuangan Pattimura, pertunjukan musik, prosesi penyalaan obor, serta penampilan seni yang menggambarkan semangat kepahlawanan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan festival yang diawali ibadah, pembukaan dan doa, laporan panitia, pembacaan ikrar Hari Pattimura 2026, paduan suara, sambutan dari para pejabat dan tokoh masyarakat, pagelaran seni budaya, penampilan orkestra dan tari kreasi, hiburan musik, penampilan bintang tamu, pertunjukan disc jockey (DJ), hingga ditutup dengan lagu Gandong yang dinyanyikan bersama sebagai simbol persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Maluku di mana pun berada.  (***)

Share this ...